Oleh : Shella Fitri Wahyuni, Mahasiswa PGSD Universitas Muhammadiyah Purworejo
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu pembelajaran yang di dalamnya terdapat indikator untuk membentuk sikap ilmiah siswa. Sikap ilmiah ini hampir sama dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia, sama – sama membentuk karakter siswa. Sikap ilmiah terdiri dari sikap ingin tahu, sikap respek terhadap data/fakta, sikap berpikir kritis, sikap penemuan dan kreativitas, sikap berpikiran terbuka dan kerjasama, sikap ketekunan, serta sikap peka terhadap lingkungan sekitar menurut Harlen (Enisiati, 2016, 4). Sesuai dengan kurikulum yang berlaku (K13), pembelajaran di sekolah dasar menjadi pembelajaran tematik. Dimana terdapat tema besar yang di dalamnya mencakup berbagai kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti yang berisikan 4 kompetensi yaitu kompetensi spiritual, kompetensi sosail, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan. Pembelajaran ilmu pengetahuan alam merupakan salah satu mata pelajaran yang dimasukkan ke dalam tema besar atau tematik menjadi tantangan tersendiri untuk guru menumbuhkan dan membiasakan siswa berkarakter. Guru dapat membangun gaya pembelajaran tematik dengan gaya pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk membangun karakter siswa.
Sesuai dengan kurikulum pendidikan di Indonesia yang sering mengalami perubahan ini membuat guru harus beradaptasi dalam kegiatan belajar mengajar. Ditambah dengan kemajuan teknologi pada abad 21 yang mempengaruhi guru untuk terus update dengan media – media pendukung kegiatan pembelajaran demi ketercapaian tujuan pendidikan. Tujuan dari pendidikan nasional yang terdapat pada UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kurikulum 2013 ini menuntut siswa tidak hanya pintar dalam pengetahuan saja, namun juga dalam keterampilan dan berkarakter. Ketercapaian ini tidak secara instan didapat dan dibentuk. Sekolah dasar merupakan tonggak utama dalam pembentukan karakter. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah dasar harus memperhatikan dengan pola berpikir mereka yaitu masih dalam tahap operasional konkret. Dimana siswa sekolah dasar belum mampu berpikir secara abstrak dan cenderung mencontoh apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Jadi, proses kegiatan pembelajaran pada abad 21 ini memberikan tantangan tersendiri untuk guru agar dapat memberikan pemahaman konsep materi dan juga membentuk karakter siswa dalam kemajuan zaman dan bersaing dengan teknologi.
Berdasarkan wawancara dengan salah satu guru sekolah dasar, menyebutkan bahwa model pembelajaran mempengaruhi siswa dalam pembelajaran dan pembentukan karakter namun juga harus disesuaikan materi yang akan dipelajari. Kebijakan – kebijakan kegiatan di sekolah wujud dalam mendukung kegiatan membiasakan siswa berkarakter, contohnya setiap awal pembelajaran siswa menyanyikan lagu nasional dan mars abita ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap siswa yang nasionalisme dan cinta tanah air, pada hari sabtu seluruh warga sekolah menari tarian khas daerah secara massal ini akan menumbuhkan siswa dalam mencintai dan melestarikan kebudayaan di sekitarnya. Cara pembelajaran dalam sekolah dasar tidak bisa dibilang mudah karena pola berpikir yang masih pada tahap operasional konkret menjadi tantangan tersendiri bagi guru sehingga harus memberikan siswa contoh – contoh yang nyata, pembelajaran dapat dengan teknik mengaitkan pembelajaran dengan lingkungan atau alam sekitar, memberikan ruang untuk belajar di ruang kelas, atau dengan menggunakan media pembelajaran. Melalui pembelajaran tersebut diharapkan mampu membangun sikap mencintai dirinya sendiri, mencintai lingkungannya, peduli, rasa ingin tahu, mampu beradaptasi dan peka dengan perubahan yang terjadi. Pembentukan karakter tidak diperoleh dari hal yang instan. Butuh waktu dan kegiatan pembiasaan untuk membentuk suatu karakter pada siswa. Guru juga harus memunculkan karakter yang dapat ditiru oleh siswa. Tidak hanya membentuk karakter pada siswa saja, namun juga harus membentuk karakter pada diri sendiri sebagai tauladan siswa. Kegiatan – kegiatan sekolah dasar merupakan hal penting dalam membiasakan dan dibiasakan untuk menjadi kebiasaan siswa dalam berkarakter.
Kendala – kendala yang dihadapi selama proses pembentukan karaker diantaranya tidak serta merta seluruh siswa mempunyai sikap rasa ingin tahu terhadap materi yang dipelajari maka menjadi tantangan bagi guru untuk memunculkan rasa ingin tahu siswa dan kecanduan gadget yang sering dimainkan di rumah membuat siswa untuk malas dalam berpikir ini membuat guru membutuhkan kesabaran dan cinta untuk mengatasi ketergantungan dan merubah karakter siswa. Pengawasan dan juga bimbingan dari orang tua juga sangat dibutuhkan. Pembentukan karakter tidak hanya di sekolah saja namun juga mencakup lingkungan tempat tinggal siswa dan lingkungan masyarakatnya. Untuk menumbuhkan karakter pada siswa yang berperan tidak hanya guru saja, namun juga mencakup kerjasama antara pemerintah selaku kementerian pendidikan, guru dan sekolah, orang tua dan masyarakat. Jika hal ini dapat berjalan dengan sinkron maka akan lebih mudah dalam menumbuhkan karakter pada siswa. Perkembangan teknologi yang sangat pesat juga menjadi salah satu tantangan besar juga keuntungan bagi guru untuk membentuk karakter siswa, menarik perhatian siswa, dan pemanfaatan sebagai media penyampaian materi atau media pembelajaran. Namun perlu diingat bahwa secanggih apapun teknologi tidak mampu menggantikan guru untuk membentuk karakter siswa.