Kamis, Agustus 11, 2022

Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada

Oleh: Kadarisman (Pemerhati Sosial Politik Banua)

Seorang pakar kebijakan publik, Bromley pernah berteori: keberhasilan tingkat implementasi tidak sekadar berlandaskan pemikiran, tapi juga mesti memahami opini publik.

Lalu bagaimana opini publik menjelang pilkada di Balangan ini. Memahami opini publik berarti anda dapat memetakan medan perang, sehingga dapat menyusun strategi kemenangan.

Disadari jelang Pilkada Balangan yang digelar September 2020 nanti memasuki tahap stretching. Istilah dalam olahraga, saat ini adalah masa-masa pemanasan atau peregangan otot-otot tubuh sebelum masuk ke masa tarung sesungguhnya.

Sebagaimana pernah saya tuliskan sebelumnya, pilkada Balangan, walau sejatinya akan diikuti oleh bakal paslon  dari independen, sejatinya kontestasi demokrasi di kabupaten berjuluk Bumi Sanggam ini hanyalah mempersandingkan secara “head to head” antara petahana dan mantan ketua DPRD Balangan.

Fenomena di Balangan ini mirip dengan pilkada Tabalong beberapa waktu lalu, kendati diikuti 4 Paslon saat itu, sejatinya hanya pertarungan antara Anang Syakhfini vs H Sani. Sayangnya, H Sani lalai jika waktu berjalan amat singkat, sehingga banyak kesempatan terbuang. Ketika petahana saat itu sudah gemar bermalam di kampung-kampung, H Sani belum menegaskan dirinya.

Jika di Tabalong petahana keluar sebagai pemenang secara hukum, tapi tak sedikit pihak yang meyakini H Sani lah pemenangnya. Bagaimana seorang kader Golkar yang terdepak itu maju dengan keputusan perseorangan lalu menempel sangat tipis suara sang petahana.  Perbedaan yang berada di angka margin of error’ adalah angka yang layak diperdebatkan kemudian.

Head to Head itu akan terjadi di Balangan. Bedanya, dua kontestan yang bertarung adalah tokoh politik yang memahami peta dan medan pertarungan, memiliki basis masa yang jelas dan memiliki isu dan kelemahan  yang jika dimainkan bisa menggeser swing voter berpihak kepadanya.

Kuatnya dua calon kontestan ini saling tarik menarik. Setidaknya hal itu  tampak mata bagaimana “tim infanteri” yang bergerilya di darat telah telah dilakukan oleh dua kubu Ansharuddin dan Abdul Hadi.  Anda boleh melihat di sudut-sudut kota, kecamatan dan desa dua kontestan ini sama-sama telah mengukuhkan maju dalam pilkada Balangan. Sementara pihak independen tenggelam dalam hiruk pikuk dua bakal calon kontestan ini.

Strategi pengenal diri dalam bentuk baliho, spanduk, reklame yang bersifat konvensional saat ini masih memiliki pengaruh nomor wahid. Jika kontestan melalaikan kesempatan ini, teori komunikasi memberikan garansi ia bakal karam dalam perebutan menanamkan pesan kepada calon pemilih.

Kendatipun dunia digital sudah merasuki sendi kehidupan masyarakat Balangan, pada beberapa penelitian nyatanya Balangan masuk ke dalam typikal masih dipengaruhi oleh publikasi yang bersifat konvensional. Timses masing-masing calon boleh saja mengandalkan media sosial untuk melakukan sosialisasi diri, tetapi yang mesti diingat adalah, perbincangan di medsos bermula dari peraga apa yang terpasang di lapangan.

Mengandalkan medsos sebagai sarana mengenalkan diri bukanlah langkah salah. Sebagai pihak yang melibatkan dalam pertarungan, kekuatan “udara” mesti pula dikuasai. Hal ini penting karena jangkauan tembak dapat menyasar lebih cepat dan efisien, terutama pada pemilih pemula. Data pemilih pemula di masa pertumbuhan demografi menjadi penting dimiliki oleh kontestan, agar strategi sosialisasi dapat dilakukan sesuai dengan potensinya, apakah di “darat” atau di “udara.”

Meminjam istilah Bromley, dari semua strategi mengenalkan diri itu, hal penting dilakukan adalah bagaimana memahami opini publik yang berkembang. Anda tidak bisa asal bicara tentang karet, sementara masyarajat tertentu sedang mengembangkan bawang merah.

Tidak berhenti sampai di situ, wacana publik tentang fugur yang akan dijajakan ke dalam pilkada Balangan juga memengaruhi hasil akhir dari keputusan memilih siapa.

Bahwa wacana perubahan atas kepemimpinan di Balangan merupakan salah satu wacana publik yang sangat kental. Hal yang pemilih minta adalah “menu” lain selain menu yang lama. Ada aspek demotivasi atas keadaan dan ada rasa keinginan menghadirkan nuansa baru dalam pilihan pilkada Balangan. Ini persoalan.

Ada banyak wacana publik yang dapat merekam kuatnya arus perubahan, misalnya suara kerinduan pada putra daerah dan pemimpin yang bersih dari isu yang berurusan dengan hukum. Pemilih ingin pemimpin yang bersih, memahami daerah dan orang daerah itu sendiri.

Isu primordialisme dalam demokrasi adalah kewajaran. Di Amerika Serikat yang mengklaim sebagai bapak demokrasi, primordialisme pun terjadi, bahkan lebih parah. Bagaiman Capres Donal Trump saat itu bahkan begitu rasis. Hal itu adalah fitrah demokrasi.

Namun demikian, esensi demokrasi harus pula menegaskan, bahwa putra daerah yang memiliki kafasitas dan bersih layak untuk diperlakukan sama dalam hal untuk diberikan kesempatan dipilih. Maknanya adalah bukan karena putra daerahnya tapi karena kelayakannya seperti kafasitas, pengalaman politiknya dan jejak rekam yang bersih.

Sayangnya, saya tidak sampai mendalami siapakah putra daerah dengan trackrecord yang bersih dan berkafasitas itu. Yang tahu adalah pemilih itu sendiri. Merekalah yang menentukan!

Namun yang pasti memahami dan mampu memangguk opini publik menjelang pilkada, lalu mengolahnya dan mentreatmennya, itulah pemenangnya. Itu semuabutuhkan waktu. Dan waktu yang penting adalah waktu sekarang!  Wallahu’alam bisawab.

Artikel terkait

Blunder Politik Tukang Bakso

Oleh : Kadarisman, Pemerhati Politik Banua Dalam politik perilaku aktor menjadi sangat penting untuk tetap dijaga secara sadar. Perilaku dapat menjadi pesan politik kepada konstituen...

Kebangkitan Dunia Pendidikan dari Covid 19

Oleh : Gilang Setia Mahendra, A. Ridho Afriyanto dan Titik Anjarini Wonosobo - Saat ini kita sedang dihadapkan dengan virus Covid-19 yang berdampak besar pada...

Pembelajaran Tematik Di Era New Normal dengan Menerapkan Blended Learning

Pandemi Covid-19 yang berlangsung selama dua tahun kebelakang ini menyebabkan perubahan yang begitu besar khusunya di dunia Pendidikan. Dampak yang terjadi salah satunya...

tetap terhubung

8,590FansSuka
3,370PengikutMengikuti

Berita Terkini

Wakil Bupati Tabalong Lantik 3 Kepala Desa PAW

TANJUNG, kontrasonline.com - Wakil Bupati Tabalong, H Mawardi melantik tiga orang pengganti antar waktu (PAW) kepala desa, Kamis (11/8). PAW kepala desa ini dilakukan untuk...

Kecelakaan Di Tugu Obor, Dua Korban Dibawa Ke RSUD HBK

Dalam minggu ini sudah terjadi tiga kali kecelakaan TANJUNG, kontrasonline.com - Kecelakaan lalu lintas di kawasan monumen Tanjung Puri atau Tugu Obor kelurahan Mabu'un kecamatan...

Berikut Kriteria Penilaian Lomba Pos Kamling di Tabalong

TANJUNG, kontrasonline.com – Dalam pelaksanaan lomba Pos Kamling ada sejumlah kategori yang harus diperhatikan bagi peserta yang ikut berpartisipasi. Kasatpol-PP dan Damkar Tabalong, Abdul Halim...

Noor Farida Minta Fasilitas Olah Raga di Selatan Tabalong Diperhatikan

TANJUNG, kontrasonline.com - Fasilitas sarana dan prasarana olahraga yang masih dianggap minim khususnya di wilayah Selatan Bumi Saraba Kawa mendapat sorotan anggota DPRD Tabalong. Hj....

Petugas Gabungan Padamkan Kebakaran di Lahan Kosong Desa Karangan Putih

TANJUNG, kontrasonline.com – Kebakaran lahan terjadi di desa Karangan Putih RT 06 kecamatan Kelua pada Selasa (9/8) siang kemarin.  Lahan milik warga setempat yang terbakar...
error: Maaf, Content is protected !!